Awal dari Hari Esok

Wahyudi Hamarong
0

oleh 
Ainun Salsabila
Siswi Kelas XII MIPA 1


                                                                        Sumber foto: fixabay.com

    Hari ini siswa kelas 3 di SMA Persada Mulia sedang merayakankan 'Last Ceremony' di Aula sekolah, panggung megah yang disiapkan oleh panitia telah berdiri di dalam ruangan yang cukup besar itu, kursi-kursi pun tertata rapih di dalam gedung Aula sekolah, diluar gedung tersebut pun berdiri beberapa tenda pesta untuk para Siswasiswi dan tamu undangan, tampak pula layer besar yang berada diluar Gedung untuk menampilkan pertunjukan yang ada di dalam Aula agar siswa – siswi dan tamu undangan yang ada di luar Gedung dapat menyaksikan acara yang ada di dalam Gedung Aula. Perwakilan dari masing-masing kelas pun sudah bersiap untuk menampilkan bakat terpendam mereka selama 3 tahun sekolah. Kebetulan di kelasku Sela, Fike, Rara, Soraya dan Maiqirah yang tidak lain adalah sahabat-sahabatku, akan menampilkan Tarian kontemporer, sebenarnya yang akan tampil ada 6 orang termasuk aku Feenesya, tapi karena cedera di kaki akhirnya aku memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pentas ini. Padahal aku sangat ingin berpartisipasi dalam acara 'Last Ceremony' apalagi ini adalah moment terakhir aku akan tampil di atas panggung dengan berstatus siswi SMA Persada Mulia. Beberapa siswa telah menampilkan penampilan terbaiknya termasuk grub Tari Kontemporer yang kami beri nama "The Sserafim", kami tidak tahu kenapa nama keren itu bisa muncul, padahal itu hanya gabungan dari nama kami.

    Setelah penampilan parade puisi oleh anggota OSIS yang telah menghadirkan haru di antara siswa-siswi yang akan meninggalkan sekolah tahun ini, Jino salah satu teman sekelasku tiba-tiba naik ke atas panggung dengan mata sembab sambil bernyanyi yang diiringi alunan suara gitar yang begitu indah. Jino mulai menyanyi lagu 'Masa SMA' milik Angel 9 band, kami mulai saling menatap satu sama lain dan tanpa sengaja menitihkan air mata, kelima sahabatku yang saat ini sudah ada disampingku saling merangkul satu sama lain. Di akhir bait lagu yang dinyanyikan Jino semua Siswa kelas 3 mulai bernyanyi dan menambah haru diantara siswa-siswi yang sedang menyaksikan pentas perpisahan hari ini. Setelah Jino mengakhiri nyanyiannya dan turun dari panggung yang disambut tepukan tangan dan sorakan haru dari seluruh penonton yang menyaksikan pertunjukan yang baru saja berakhir itu. Air mata tidak dapat terbendung lagi, curahan hati yang selama ini disimpan semua di keluarkan dalam acara ini. Keluhan yang di pendam selama 3 tahun diungkapkan agar perasaan mereka lebih lega untuk berpisah dengan teman sekelas bahkan teman sekolah sekalipun, tidak terkecuali salah satu sahabatku Maiqirah, ia mengungkapkan bahwa aku pernah membuat perasaannya sakit saat berlatih Tari Kontemporer pertama kali, aku menegurnya karena kurang dalam memahami ketukan musik dan kebetulan kata-kataku menyakiti hatinya, tapi saat ini aku mengakui kesalahanku dan meminta maaf padanya, kami menganggap kejadian di masalalu hanya kesalahpahaman yang dapat kita selesaikan dengan mudah. Kami saling merangkul sambil menikmati alunan musik dari pentas itu, dari kejauhan kami melihat Mira teman sekelasku yang terkesan penyendiri dan sukar untuk di ajak berbicara. Aku menghampiri dan mengajaknya untuk bergabung bersama kami, sahabatku pun menyambut baik kehadiran Mira di tengah-tengah kami. Kecanggungan mulai terasa di antara perkumpulan itu, Soraya tiba-tiba mengajak kami untuk pindah ke gazebo yang berada di samping kantin sekolah untuk meredam kebisingan dari suara soundsystem di ruang Aula yang juga ada di depan gedung yang sama. Kami duduk melingkar. Aku melihat Soraya seperti ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya gelisah. Ternyata Soraya ingin bertanya kepada Mira apa yang membuatnya selama ini menjauhi teman-teman bahkan semua orang.

    Mira bercerita bahwa dirinya sering mendapatkan kekerasan secara verbal dan fisik dari teman-teman semasa kecil yang membuatnya seperti takut untuk dekat dan berteman dengan siapapun di dunia ini, yang dipercaya saat ini hanya dirinya sendiri, karena menurutnya hanya dia yang memahami dan mengenal dirinya sendiri. Maiqirah memeluk Mira sambil meneteskan air mata menandakan keprihatinannya kepada salah satu teman sekelasku itu. Kami membujuk Mira untuk lebih terbuka kepada kami agar ia bisa lebih tenang dan tak lagi menjauh dari orang lain, dengan tangis sesegukan ia menceritakan semua hal yang telah dialami selama ini, saat mengaduh kepada kedua orang tuanya ternyata respon dari orang tuanya tidak sesuai ekspektasinya, yang ia dapatkan hanya celahan dan hinaan yang menyedihkan dari orang yang setidaknya bisa menjadi tameng dari kekejaman dunia ini. Tangis Mira pecah ketika kami memeluk dan mencoba menenangkannya. Mira mengangkat kepalanya sambil menatap kami satu persatu lalu berterima kasih karena telah  mendengarkan curahan hatinya, perasaan tidak tenang selama kurang lebih 7 tahun i mengganggu bisa ia atasi dengan bantuan kami. Mira berjanji akan menjadi seseorang yang lebih baik di masa depan dan berusaha untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Saat kami sedang menghibur Mira, panitia memanggil kami semua untuk mengakhiri acara Last Ceremony dengan menerbangkan balon pertanda kami akan terbang untuk menggapai impian kami masing-masing, kami berjalan bersama menuju pelataran gedung Aula yang cukup luas setara dengan 2 lapangan futsal, dan secara bersamaan melepaskan balon yang kami genggam ke angkasa.

    Last Ceremony telah berakhir, kami pulang ke rumah masing-masing dengan rasa sedih yang menyelimuti setiap langkah kami meninggalkan sekolah. Aku tahu bahwa aku akan sangat merindukan sahabat-sahabatku, mereka adalah bagian terpenting dalam hidupku dan aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka yang sudah ku anggap seperti keluarga sendiri, apalagi mereka mempunyai hati yang sangat baik dan tulus, bukan hanya kepada sahabatnya, orang yang seolah asing saja mereka mampu untuk merangkul, dan membuatnya bangkit, seperti contohnya Mira yang bisa dikatakan tidak pernah berinteraksi dengan kami tapi sahabat-sahabatku mampu membuatnya nyaman untuk menyembuhkan kegelisahan Mira selama ini. Aku akan selalu mengingat kalian dan aku akan selalu menghargai setiap kenangan yang kita ukir bersama. Kita akan mengalami banyak hal baru, dan aku tidak sabar untuk memulai petualangan baru ini, Terima kasih sahabat-sahabatku.

Pamboang, 24 Desember 2023

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Accept !
To Top