Selalu ada Jalan

Wahyudi Hamarong
0


        Oleh : Amelya Farah Azzahrah, Siswi Kelas XII IPA 1 

                                                                 Sumber:  https://pixabay.com

Aku terlahir dari keluarga yang kurang berkecukupan. Kedua orang tuaku bekerja sebagai petani. Aku memiliki seorang kakak laki - laki yang usianya berbeda 5 tahun denganku. Aku biasa memanggilnya Kak Dwi. Terlahir sebagai anak perempuan dan menjadi anak bungsu membuatku mendapatkan kasih sayang yang banyak dari kedua orang tua juga Kak Dwi.

Ayah dan Ibu bekerja sangat keras untuk mencukupi kebutuhanku dan Kak Dwi karena ayah dan ibu ingin anak anaknya dapat bersekolah hingga mendapat gelar sarjana. Melihat perjuangan ayah dan ibu untuk menyekolahkan kami, membuat kami belajar dengan tekun dan membuat kakak dikenal sebagai anak yang pintar di sekolah.

    Saat aku akan naik kelas 2 SMP Kak Dwi  sudah lulus SMA. Karena ketekunannya belajar ia berhasil mendapatkan nilai yang bagus dan lulus perguruan tinggi di jalur SNMPTN di salah satu universitas terbaik. Tetapi saat melihat kondisi ekonomi keluarga ia berpikir untuk menolak universitas tersebut dan memutuskan akan langsung bekerja saja.

Ayah tahu kalau Kak Dwi berpikir untuk menolak dan tidak akan lanjut kuliah. Ayahku marah dan memaksanya menerima  universitas tersebut. Dengan alasan  kakak akan kuliah di luar kota ayah memutuskan untuk menjual setengah kebun miliknya untuk membayar segala keperluan kuliah dan kehidupan  Kak Dwi  di Kota Daeng.

    Setibanya  di kota Kak Dwi  mengalami banyak kultur syok dan kesulitan uang hasil jual kebun itu ternyata hanya cukup untuk bertahan hidup sekitar setengah tahun saja. Melihat keadaan tersebut ia memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Ia bekerja sebagai   kasir di salah satu supermarket dan gajinya cukup untuk membiayai kuliahnya walaupun untuk bisa makan 2 kali sehari saja itu sudah menjadi hal yang sangat luar biasa baginya.

    Ayah terus menekanku untuk belajar agar bisa kuliah di kota sama seperti kakak. Mungkin karena   Kak Dwi selalu menceritakan kehidupan indah di kota. Tentang mall, hotel, kendaraan, dan tempat makan.  Kakak tidak mau menceritakan keadaan sebenarnya karena ia tidak ingin ayah bekerja lebih keras lagi untuk membiayai kuliah kakak.

    Cita-citaku ingin menjadi dokter sebelum kakak kuliah di Makassar. Menurutku  ini  hal yang sangat mustahil. Tapi setelah mendengar cerita Kak Dwi tentang kehidupannya yang indah di kota aku merasa  sedikit harapan untukku. Aku semakin giat belajar. Teman-teman hanya tertawa mendengar jawabanku setiap ditanya guru di sekolah.

“Aku mau jadi dokte, Bu…” Jawabku ragu. kelas tiba-tiba hening tapi tak terlalu lama langsung  gaduh oleh suara teman-teman yang tertawa keras-keras.

  “ Dokter.. hahaha….dokter itu hanya cita-cita untuk anak orang kaya seperti Putri “ Ejek teman- teman kepadaku. Putri memang anak orang terkaya di kampung Papanya memiliki kebun 10 hektar. Jauh  lebih luas dari kebun Ayah. Apalagi setengahnya sudah di jual.

    Setibanya di rumah Aku kaget. Ada Kak Dwi  datangAku berlari ke arahnya dan langsung memeluknya Ini  pertemuan pertama kami setelah dia  berpamitan 4 tahun yang lalu untuk berangkat kuliah. Kak Dwi  memutuskan tidak pulang untuk menghemat uang. Kini Kak Dwi  pulang karena ia akan segera berangkat KKN. Saat makan malam  aku sangat bahagia. Ini pertama kalinya kami berkumpul lagi setelah bertahun-tahun. Setelah selesai makan tiba-tiba raut wajah Kak Dwi  berubah Suaranya bergetar.

 “ Ayah, Ibu…Dwi minta maaf. Sebenarnya dari tahun lalu kakak sudah bisa ikut KKN tapi karena dana belum bisa diikutkan.

“ Kenapa kamu  tidak bilang sama Ayah Ayah sudah janji semua semua biaya sekolah kalian akan Ayah penuhi. “ Jawab ayah dengan suara bergetar.

“ Dwi  tidak mau lihat ayah kerja keras lagi Saya sudah berusaha untuk kumpul uang tapi pada saat mau pulang dari tempat  kerja  kakak dibegal di angkot “ ujar Kak DwiKakak menceritakan segalanya tentang pahitnya kehidupan di kota.

   Keesokan harinya  ibu datang bawa amplop putih.

 “ Ini  uang untuk KKN,” Ibu menyodorkan amplop ke Kak Dwi sambil tersenyum. Kakak hanya bisa menangis.

    Di  sekolah tiba-tiba Putri dan gengnya menatap sinis kepadaku. kring… kring bel berbunyi pertanda jam pertama segera di mulai. pelajaran berjalan seperti biasanya hingga tiba saat untuk pulang. waktu aku akan melangkah keluar kelas tiba-tiba Putri menahanku di pintu.

 ininih calon dokter kita, “ ucap Putri yang disambut  tawa semua teman-teman kelas.

 “ Calon dokter katanya biaya KKN kakaknya saja pinjam uang sama ayahnya Putri,” lanjut teman  lainnya. Hari ini aku sangat dipermalukan oleh teman teman kelasku,

Setelah sampai di rumah aku tidak lagi melihat Kak Dwi. Dia  sudah berangkat kembali ke kota untuk segera mengurus pemberangkatan KKNnya. Sejak kejadian  itu dan melihat kondisi ekonomi keluarga semakin buruk, Aku mulai sadar jangankan kuliah kedokteran kuliah saja adalah hal yang mustahil bagiku. Aku mulai pesimis kalau  Aku tidak akan pernah jadi dokter atau bergelar sarjana.

    Tiba saatnya aku akan lulus SMA. Ayah terus menyuruku belajar untuk seleksi universitas negeri. Setelah kelulusan dan pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi Aku mengaku tidak lulus di universitas yang aku daftarsebenarnya Aku tak mendaftar sama sekali.

Aku, ibu, dan ayah setiap hari berangkat bersama ke kebun. Ini menjadi  rutinitasku semenjak  lulus SMA. Dua tahun berlalu kondisi keuangan semakin memburuk Ayah juga mulai sakit-sakitan karena bekerja terlalu keras. Utang pada ayah putri pun sudah lunas.

“Nak, utang keluarga kita sudah lunas sekarang saatnya kamu daftar kedokteran. Ayah akan jual kebun lagi untuk biayamu ke kota. Ayah janji akan terus kirim uang setiap bulan untuk memenuhi kebutuhanmu. Aku  tersenyum saat mendengar ayah berkata seperti itu.

“Kunggu Kakak pulang aja dulu, Yah!” Jawabku.

 Setelah Kak Dwi  berangkat KKN, dia  tidak pernah lagi pulang.Alasannya untuk menghemat uang apa lagi dari kota ke kampung itu memerlukan biaya transport  mahal.

    Hari ini kami menanam  beberapa jenis bibit sayuran. Harapannya bisa di panen nanti dan dijual ke pasar. Matahari sudah mulai memanggang kulit. Aku memutuskan pulang lebih awal untuk siapkan makan siang. Sampai di rumah alangkah kagetnya Aku melihat banyak makanan yang sudah siap di meja. Ikan, ayam goreng, sayur lodeh dan menu lainnya sudah siap. Ternyata Kak Dwi pulang dan siapkan menu untuk kami. Aku berlari ke kebun memanggil Ayah dan Ibu. Hari itu kami makan lahap karena jarang dapat makanan seperti itu. Kini  Kak Dwi  menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi sekitar 2 tahun terakhir Ternyata Kak Dwi  sudah wisuda tahun lalu Kak Dwi sebenarnya  mengirim surat  tapi saat itu terjadi longsor dan mobil pos itu menjadi salah satu korban dari bencana alam tersebut. Katanya tak berselang lama setelah  wisuda dia langsung mendapat pekerjaan karena ketekunannya dalam bekerja serta kejujurannya membuatnya diangkat menjadi sekretaris di perusahaan itu.

Sekarang Kak Dwi  datang untuk memboyong kami ke kota dan akan menyekolahkanku di universitas terbaik dengan jurusan kedokteran. Aku hanya bisa menangis tak menyangka sama sekali bisa melanjutkan cita-citaku.  Harapan Kak Dwi mengikutkan  Ayah dan Ibu tidak terpenuhi. Mereka memilih tetap tinggal di kampung saja. Akhirnya Kak Dwi merenovasi rumah dan melarang untuk Ayah dan Ibu ke kebun lagi. Tujuh tahun berlalu aku sudah menyelesaikan S1 jurusan kedokteran dan wisuda ku bisa dihadiri oleh ayah, ibu, Kak Dwi  dan keluarga  lainnya. Aku berlari ke arah mereka dan memeluk Ayah, Ibu, dan Kak Dwi.

“Terima Kasih Ayah, Ibu, dan Kak Dwi.”

                                                                                                                            Pamboang, 8 Maret 2024

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Accept !
To Top