Kita Tak Mesti Beda

Wahyudi Hamarong
0



                                          foto:https://pixabay.com/

Kiara adalah siswa pindahan dari Indonesia bagian paling timur, tepatnya Papua.  Ia pindah ke SMA Cakrawala di Bandung karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Kiara dijuluki oleh teman sekelasnya dengan julukan "ugly girl" karena warna kulit dan rambutnya yang tampak berbeda.  Hal itulah yang membuat Kiara merasa tidak percaya diri dan insecure saat berada di sekolah.

Hari ini, Kiara sudah lengkap dengan seragamnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan, ia merasa bahwa orang di sekitarnya sedang melihatnya dengan pandangan aneh, "Ah, ayolah Kiara, ini sudah biasa," tuturnya dalam hati.

Sesampainya di sekolah, Kiara langsung duduk di bangku pojok dan tersenyum kepada teman sebangkunya. Ia Aca. Menurutnya Aca adalah orang yang cantik dan baik hati karena dialah satu-satunya teman yang berpendapat perbedaan adalah hal yang lumrah dan biasa karena  menurutnya Indonesia merupakan negara dengan seribu kepulauan dan kaya akan budaya.

"Selamat pagi, Kiara." Sapa Aca disertai dengan senyum manisnya. Kiara hanya membalas dengan tersenyum simpul dan langsung membaringkan kepalanya di atas meja dengan tangannya yang dijadikan bantal.  Aca menggelengkan kepala. Itu kebiasaan Kiara sebelum bel masuk berbunyi.

"Kamu ngga laper, Ra? Ke kantik yuk sarapan." Kiara mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Aca.

"Ngga Aca, aku udah sarapan di rumah sebelum berangkat." Aca hanya mengangguk dan pergi menuju kantin. Sebenarnya Kiara sangat ingin menemani Aca. Namun, ia tidak ingin jika Aca melihat dirinya diejek dan ditertawakan nantinya.

Kiara menatap punggung Aca yang mulai menjauh dan hilang dari pandangannya, ia memalingkan wajahnya dan melihat tiga orang yang mendekatinya.

"Ah, here we go again." Batinnya sambil tersenyum miris.

 

"Heh, cupu! Ngapain diem disitu? Beliin sarapan sana, kayak biasa ngga pake lama!" Teriak temannya itu. Namanya Laura, ia dijuluki pembully di sekolah. Di lihat dari penampilannya yang agak menonjol, ia memang cukup pantas dicap seperti itu, dimulai dari rambutnya yang sedikit berwarna rok yang lebih pendek dan baju yang sengaja dikeluarkan.

Kiara berdiri dan tersenyum ke arah Laura.

"Uangnya mana?" Kiara bertanya sambil menyodorkan tangannya.

"Ya pake duit kamu lah! Masa segitu aja ngga punya." Suara Laura meninggi.

"Tapi biasanya yang jelek kayak Kiara ini miskin sih hahaha" Suara  itu bukan Laura, itu temannya yang lain. Mira.

Kiara hanya tersenyum.

 "Ya udah, aku ke kantin dulu ya." Pamitnya dan berlalu dari sana.

Setelah sampai di kantin, Kiara langsung menuju ke ibu-ibu yang menjaga kantin tersebut dan memesan makanan yang biasa ia pesan untuk Laura dan antek-anteknya. Aca yang melihat itu langsung menghampiri Kiara.

"Loh, Ra? Bukannya tadi kamu bilang udah kenyang ya, kok ada disini?" Aca bertanya dengan mata sipitnya, lucu di mata Kiara.

"Ah ngga, bukan aku. Tadi ada teman yang minta tolong buat beliin sarapan, makanya aku kesini, kamu sendiri udah sarapannya?" Jawab Kiara, sedikit mengalihkan pembicaraan.

"Belum selesai sih, tapi karena liat kamu di sini makanya aku samperin, ya udah aku lanjut makan ya." Aca kembali duduk di mejanya dan melanjutkan  sarapannya yang sempat tertunda.

 

 

Kiara menghela nafas sesampainya di depan kelas, ia perlahan melangkah ke dalam kelasnya dan menghampiri di mana Laura dan teman-temannya duduk.

"Ini makanannya Laura, yang kayak biasa," ucapnya ramah dengan tangan menyodorkan makanan di meja Laura, Kiara berbalik dan kembali ke mejanya.

"Najis ngga sih sama dia? Liat deh kulitnya hitam banget, mana rambutnya keriting gitu lagi, jijik tau ngga." Mira berkata sambil menggidikkan tubuhnya geli.

"Iya sih, kamu ngga jijik apa nyuruh dia beli sarapan?" Tanya Salsa, teman Laura yang lain.

"Lagian itu makan kan ngga dipegang langsung, yaudah biarin aja. Hitung-hitung dia bisa jadi babu kita, dibayarin lagi makannya." Laura tertawa.

Iya, Kiara mendengar semuanya. Ia hanya tersenyum kecut mendengar perkataan teman sekelasnya, mau bagaimana lagi? Ingin melawan juga tidak ada daya, Kiara akan selalu kalah dengan penampilannya yang berbeda, ia hanya akan ditertawai jika melawan.

Kringg kringg kringgg

Bel pulang telah berbunyi, kini Kiara sedang membereskan peralatan belajarnya, ia beralih menatap Aca yang menyenggol pelan lengannya,

"Duluan ya, Ra. Papaku sudah di depan." Pamit Aca sedikit melambaikan tangannya.

Kiara mengangguk, ia berdiri dan keluar dari kelasnya. "Saat-saat begini rasanya tenang, koridor sepi, ngga ada kata yang tajam untuk didengar," ucapnya sambil bersenandung kecil. Kiara terkejut dan membulatkan matanya ketika melihat salah satu adek kelasnya  tiba-tiba ada di depannya.

"Ah, maaf Kak udah ngagetin, tapi kakak dipanggil ibu Aminah di ruang guru." Ucap adek kelasnya itu.

 

"Eh?" Beo Kiara, ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil ber-oh ria, ia menatap adek kelasnya penasaran.

 "Tapi buat apa ya ibu Aminah panggil saya?"

"Kurang tau Kak, saya tadi cuma lewat di depan ruang guru terus disuruh panggil kakak." Jawabnya singkat.

"Oh, oke deh. Terimakasih." Kiara tersenyum ramah kemudian berlalu menuju ruang guru.

"Assalamualaikum!" Kiara mengetuk pintu pelan.

"Eh, Nak Kiara. Masuk sini." Ucap ibu Aminah dengan nada ramahnya sambil melambaikan tangannya.

Kiara duduk di depan meja Ibu Aminah.

 "Ada apa ya ibu manggil saya?" Tanya Kiara.

Ibu Aminah berdehem pelan.

 "Begini Kiara, ada lomba menyanyi tingkat nasional dan kepala sekolah ingin kamu yang mewakili sekolah kita." Ucap ibu Aminah menjelaskan.

Spontan Kiara membulatkan matanya dan menatap mata ibu Aminah bingung.  Hah! Lomba menyanyi? Kiara sedikit gelagapan melihat ibu Aminah yang menatap bingung ke arahnya, ia menenangkan dirinya yang salah tingkah.

"Kenapa Kiara? Ada yang salah sama keputusan kepala sekolah? Atau kamu mau mewakili sekolah kita untuk lomba ini? Ibu berharap sekali kamu bisa ikut, apa lagi ibu pernah mendengar suara kamu saat menyanyi, Ibu yakin kamu bisa, Kiara.

"Saya pikir-pikir dulu, Bu. Saya juga harus izin ke orang tua saya," Ucap Kiara sedikit tidak enak.

Ibu Aminah mendengus, "Baiklah, kamu sudah harus bisa memastikan jawabannya besok, ibu sangat berharap kamu mau, Kiara."

"Iya, Bu. Kalau gitu saya permisi ya, udah sore banget takut dicari orang tua saya." Pamitnya kemudian berlalu dari sana.

Sesampainya di rumah, Kiara langsung melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Ia menyusuri ruang tamu  dan tak sengaja menatap punggung ibunya yang sedang menonton tv di ruang keluarga.  Kiara menghampiri ibunya dan duduk di sebelahnya.

"Sudah pulang, Kia?" Tanya sang ibu menatap hangat putri semata wayangnya, ia sangat menyayangi Kiara.  Ia selalu memastikan agar memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun hari ini, ia merasa gagal. Sorot mata anaknya sangat terlihat sedih . Tidak ada keceriaan di sana. Lama sang ibu memandanginya sebelum lamunannya buyar karena panggilan anaknya.

"Ma, Mama kenapa? Kiara udah pulang." Kiara melamba-lambaikan tangan kemudian meraih tangan sang ibu sambil   mengecupnya.

"Syukurlah, Nak, sudah makan? Tadi ibu masak udang kesukaan kamu." Ibu mengalihkan pembicaraan.

 "Iya, Ma, nanti Kiara makan, ada yang mau Kiara sampaikan ke Mama." Ia menghela nafas, sejujurnya ia sangat tidak percaya diri untuk memberitahukan ini mengingat penampilannya yang agak berantakan.

"Aku ditunjuk mewakili sekolah, lomba menyanyi tingkat nasional." Jelasnya.

Ibunya kembali memperhatikan manik mata Kiara, di mana letak kesenangannya? "Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Kia? Mama tau kalau kamu suka sekali menyanyi dan kamu cukup mahir untuk melakukannya, tapi kenapa? Mama ngga liat sorot senang di matamu."

Kiara menunduk, bagaimanapun ia harus menceritakannya, setidaknya ia juga bisa lega karena mengeluarkan isi hatinya, "Aku dibully ma, aku dikatain hitam sama mereka, aku minder untuk tampil, apalagi ini tingkat nasional.

"Untuk apa malu, kamu cukup buktikan kalau si hitam juga bisa, jangan cuma karena perkataan mereka bisa buat mimpi kamu jadi terhambat Kiara. Jangan dengarkan mereka dan jadilah yang terbaik." Jelas ibunya.

*****

"Serius? Masa yang jelek kayak gitu sih yang dipilih,"      "Hah?! Yang bener aja kalau dia"   "Mending kak Laura weeii yang diambil, daripada Kiara yang jelek banget itu. Ini kepala sekolah ngga salah apa? Masa yang kaya gitu ngewakilin sekolah"

Seperti itulah yang didengar Kiara disepanjang koridor sekolah, ia masuk ke dalam kelasnya dan langsung duduk.

"Ra, kamu ngewakilin sekolah ya? Selamat ya, aku ikut senang" Aca menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Woi, cupu! Benaran ngewakilin sekolah kita?!" Teriak Laura mengagetkan teman-temannya, termasuk  Aca.  Kiara dapat melihat wajah Aca yang kaget beberapa saat.

"Masa iya? Ya kali orang jelek kayak gini disuruh buat ngewakilin sekolah?" Sambar Mira lebih lebih kencang dari Laura.

"Namanya Kiara bukan cupu, lagian kenapa kalau Kiara yang ngewakilin? Dia juga punya bakat di bidang itu kan? Lagian kenapa sih itu-itu aja yang kalian bahas, jelek dari mananya? Kiara cantik gini dibilang jelek, kalian harusnya sadar, Kiara yang paling unik di sini cantiknya. Kalian sama Kiara tuh udah punya porsi masing-masing, lagian di dunia ngga ada yang sempurna." Terang  Aca di depan teman-teman Laura. Iya, dia tau kalau selama ini Kiara dibully. Aca hanya berpura-pura tidak tau agar Kiara tidak merasa malu terhadapnya.

Kiara berlari keluar kelas menuju WC sekolah, ia menutup pintu dan tangisnya pecah, ia menatap pantulan dirinya di cermin, "huh, ngga papa Kiara, kamu bisa!" Ucapnya kepada diri sendiri.

Aca yang sedari tadi di luar mengetuk perlahan pintu WC yang dituju Kiara, "Ra, keluar dulu yuk, ini aku ada list lagu yang udah aku pilihin sesuai tema." Kiara yang mendengar itu sedikit lega, setidaknya masih ada Aca yang peduli dan mau menjadi temannya.

Setelah beberapa minggu berlalu, hari ini adalah tepat Kiara akan berlomba, sebelum berangkat ia dapat mendengar beberapa gosip dari temannya.

"Ngga yakin sih bakal jadi juara, jadi jangan terlalu berharap, hahaha."

Kiara menggelengkan kepalanya guna mengusir ucapan temannya yang selalu terdengar, perlahan ia menaiki kendaraan yang akan ditumpangi menuju lokasi lomba tersebut.

Aca tidak ikut, ia hanya menunggu di sekolah dengan harapan sahabatnya datang dengan membawa kabar bahagia.

Kini, semua siswa siswi berkumpul di lapangan untuk menonton Kiara secara daring karena tempatnya lumayan jauh. Waktunya pengumuman lomba Aca sedikit bergetar.

"DAN YANG MENJADI JUARA PERTAMA ADALAH…." Aca sangat menantikan kalimat berikutnya dari MC lomba tersebut "... KIARA ARABELLA DARI SMA CAKRAWALA!" Aca membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar.  Ia dapat melihat Kiara di layar sedang menyeka air matanya sambil memegang piala.

Waktu berlalu, sekarang Aca berada di depan sekolah menunggu Kiara, ia tidak sabar. Aca memicingkan matanya memastikan bahwa sahabatnya lah yang sedang berjalan sambil menggendong piala nya, "KIARA YOU DESERVE IT!" Teriaknya, Kiara hanya terkekeh menanggapi sahabatnya itu. Aca menggandeng Kiara menuju lapangan.

Dapat Kiara lihat siswa siswi bersorak untuknya, setelah beberapa ucapan bangga dari para guru, Kiara dipersilahkan untuk menyampaikan beberapa kata.

"Terimakasih untuk dukungannya teman-teman, terutama untuk Aca yang selalu dukung dan bantu aku" Kiara tersenyum, ia sedikit menghela nafas. "Untuk Laura, terimakasih banyak untuk motivasinya, mulai sekarang aku bakal mencoba buat percaya diri." Kiara sedikit menyeka air matanya yang perlahan jatuh, Laura yang melihat itu cukup lama terdiam, ia tersadar akan perlakuannya selama ini.

 

""Ini aku, Kiara si hitam dan si jelek berhasil dapat juara, tapi inilah aku dan aku bangga menjadi aku!" Siswa siswi bertepuk tangan meriah, Kiara menghampiri Laura dan teman-temannya, ia menjabat tangan Laura dan tersenyum, "terimakasih sekali lagi."

Laura menunduk malu, "Kiara aku minta maaf, sekarang aku sadar kalau orang punya kelebihan masing-masing, maaf karena menyakitimu selama ini." Teman-teman Laura pun ikut minta maaf dan mereka berpelukan, Aca bernafas lega, akhirnya Kiara akan tenang dan aman di sekolah.

Perbedaan bukanlah penghalang untuk menjalin pertemanan, justru perbedaan lah yang akan membuat pertemanan itu unik. Marilah saling menghargai dan menghormati, junjung tinggi sikap toleransi.


Karya : Humaira
Kelas : XII 1
Sekolah: SMAN 1 Pamboang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Accept !
To Top