Kiara
adalah siswa pindahan dari Indonesia bagian paling timur, tepatnya Papua. Ia pindah ke SMA Cakrawala di Bandung
karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Kiara dijuluki oleh teman
sekelasnya dengan julukan "ugly girl" karena warna kulit dan rambutnya yang tampak berbeda. Hal itulah yang membuat Kiara merasa tidak
percaya diri dan insecure saat berada di sekolah.
Hari ini, Kiara sudah lengkap dengan
seragamnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan, ia
merasa bahwa orang di sekitarnya sedang melihatnya dengan pandangan aneh,
"Ah, ayolah Kiara, ini sudah biasa," tuturnya dalam hati.
Sesampainya di sekolah, Kiara langsung duduk di bangku
pojok dan tersenyum kepada teman sebangkunya. Ia Aca. Menurutnya Aca adalah
orang yang cantik dan baik hati karena dialah satu-satunya teman yang
berpendapat perbedaan adalah hal yang lumrah dan biasa karena menurutnya Indonesia merupakan negara dengan
seribu kepulauan dan kaya akan budaya.
"Selamat pagi, Kiara." Sapa Aca disertai dengan senyum manisnya. Kiara hanya
membalas dengan tersenyum simpul dan langsung membaringkan kepalanya di atas
meja dengan tangannya yang dijadikan bantal. Aca menggelengkan kepala. Itu kebiasaan Kiara
sebelum bel masuk berbunyi.
"Kamu ngga laper, Ra? Ke kantik yuk
sarapan." Kiara mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Aca.
"Ngga Aca, aku udah sarapan di rumah sebelum
berangkat." Aca hanya mengangguk dan pergi menuju kantin. Sebenarnya Kiara
sangat ingin menemani Aca. Namun, ia tidak ingin jika Aca melihat dirinya
diejek dan ditertawakan nantinya.
Kiara menatap punggung Aca yang mulai menjauh dan
hilang dari pandangannya, ia memalingkan wajahnya dan melihat tiga orang yang
mendekatinya.
"Ah, here we go again." Batinnya
sambil tersenyum miris.
"Heh, cupu! Ngapain diem disitu? Beliin sarapan
sana, kayak biasa ngga pake lama!" Teriak temannya itu. Namanya Laura, ia
dijuluki pembully di sekolah. Di lihat dari penampilannya yang agak
menonjol, ia memang cukup pantas dicap seperti itu, dimulai dari
rambutnya yang sedikit berwarna rok yang lebih pendek dan baju yang sengaja
dikeluarkan.
Kiara berdiri dan tersenyum ke arah Laura.
"Uangnya mana?" Kiara bertanya sambil
menyodorkan tangannya.
"Ya pake duit kamu lah! Masa segitu aja ngga
punya." Suara Laura meninggi.
"Tapi biasanya yang jelek kayak Kiara ini miskin
sih hahaha" Suara itu bukan Laura,
itu temannya yang lain. Mira.
Kiara hanya tersenyum.
"Ya udah,
aku ke kantin dulu ya." Pamitnya dan berlalu dari sana.
Setelah sampai di kantin, Kiara
langsung menuju ke ibu-ibu yang menjaga kantin tersebut dan memesan makanan
yang biasa ia pesan untuk Laura dan antek-anteknya. Aca yang melihat itu
langsung menghampiri Kiara.
"Loh, Ra? Bukannya tadi kamu bilang udah kenyang
ya, kok ada disini?" Aca bertanya dengan mata sipitnya, lucu di mata
Kiara.
"Ah ngga, bukan aku. Tadi ada teman yang minta
tolong buat beliin sarapan, makanya aku kesini, kamu sendiri udah
sarapannya?" Jawab Kiara, sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Belum selesai sih, tapi karena liat kamu di sini
makanya aku samperin, ya udah aku lanjut makan ya." Aca kembali duduk di
mejanya dan melanjutkan sarapannya yang
sempat tertunda.
Kiara menghela nafas sesampainya di depan kelas, ia
perlahan melangkah ke dalam kelasnya dan menghampiri di mana Laura dan
teman-temannya duduk.
"Ini makanannya Laura, yang kayak biasa,"
ucapnya ramah dengan tangan menyodorkan makanan di meja Laura, Kiara berbalik
dan kembali ke mejanya.
"Najis ngga sih sama dia? Liat deh
kulitnya hitam banget, mana rambutnya keriting gitu lagi, jijik tau ngga."
Mira berkata sambil menggidikkan tubuhnya geli.
"Iya sih, kamu ngga jijik apa nyuruh dia beli
sarapan?" Tanya Salsa, teman Laura yang lain.
"Lagian itu makan kan ngga dipegang langsung,
yaudah biarin aja. Hitung-hitung dia bisa jadi babu kita, dibayarin lagi
makannya." Laura tertawa.
Iya, Kiara mendengar semuanya. Ia hanya tersenyum
kecut mendengar perkataan teman sekelasnya, mau bagaimana lagi? Ingin melawan
juga tidak ada daya, Kiara akan selalu kalah dengan penampilannya yang berbeda,
ia hanya akan ditertawai jika melawan.
Kringg kringg kringgg
Bel pulang telah berbunyi, kini Kiara sedang
membereskan peralatan belajarnya, ia beralih menatap Aca yang menyenggol pelan
lengannya,
"Duluan ya, Ra. Papaku sudah di depan."
Pamit Aca sedikit melambaikan tangannya.
Kiara mengangguk, ia berdiri dan keluar dari kelasnya.
"Saat-saat begini rasanya tenang, koridor sepi, ngga ada kata yang tajam
untuk didengar," ucapnya sambil bersenandung kecil. Kiara terkejut dan
membulatkan matanya ketika melihat salah satu adek kelasnya tiba-tiba ada di depannya.
"Ah, maaf Kak udah ngagetin, tapi kakak dipanggil
ibu Aminah di ruang guru." Ucap adek kelasnya itu.
"Eh?" Beo Kiara, ia mengangguk-anggukkan
kepalanya sambil ber-oh ria, ia menatap adek kelasnya penasaran.
"Tapi buat
apa ya ibu Aminah panggil saya?"
"Kurang tau Kak, saya tadi cuma lewat di depan
ruang guru terus disuruh panggil kakak." Jawabnya singkat.
"Oh, oke deh. Terimakasih." Kiara tersenyum
ramah kemudian berlalu menuju ruang guru.
"Assalamualaikum!" Kiara mengetuk pintu
pelan.
"Eh, Nak Kiara. Masuk sini." Ucap ibu
Aminah dengan nada ramahnya sambil melambaikan tangannya.
Kiara duduk di depan meja Ibu Aminah.
"Ada apa
ya ibu manggil saya?" Tanya Kiara.
Ibu Aminah berdehem pelan.
"Begini
Kiara, ada lomba menyanyi tingkat nasional dan kepala sekolah ingin kamu yang
mewakili sekolah kita." Ucap ibu Aminah menjelaskan.
Spontan Kiara membulatkan matanya dan menatap mata ibu
Aminah bingung. Hah! Lomba menyanyi?
Kiara sedikit gelagapan melihat ibu Aminah yang menatap bingung ke arahnya, ia
menenangkan dirinya yang salah tingkah.
"Kenapa Kiara? Ada yang salah sama keputusan
kepala sekolah? Atau kamu mau mewakili sekolah kita untuk lomba ini? Ibu
berharap sekali kamu bisa ikut, apa lagi ibu pernah mendengar suara kamu saat
menyanyi, Ibu yakin kamu bisa, Kiara.
"Saya pikir-pikir dulu, Bu. Saya juga harus izin
ke orang tua saya," Ucap Kiara sedikit tidak enak.
Ibu Aminah mendengus, "Baiklah, kamu sudah harus
bisa memastikan jawabannya besok, ibu sangat berharap kamu mau, Kiara."
"Iya, Bu. Kalau gitu saya permisi ya, udah sore
banget takut dicari orang tua saya." Pamitnya kemudian berlalu dari sana.
Sesampainya di rumah, Kiara langsung melepas sepatunya
dan meletakkannya di rak sepatu. Ia menyusuri ruang tamu dan tak sengaja menatap punggung ibunya yang
sedang menonton tv di ruang keluarga. Kiara menghampiri ibunya dan duduk di
sebelahnya.
"Sudah pulang, Kia?" Tanya sang ibu menatap
hangat putri semata wayangnya, ia sangat menyayangi Kiara. Ia selalu memastikan agar memberikan yang
terbaik untuk anaknya. Namun hari ini, ia merasa gagal. Sorot mata anaknya
sangat terlihat sedih . Tidak ada keceriaan di sana. Lama sang ibu memandanginya
sebelum lamunannya buyar karena panggilan anaknya.
"Ma, Mama kenapa? Kiara udah pulang." Kiara
melamba-lambaikan tangan kemudian meraih tangan sang ibu sambil mengecupnya.
"Syukurlah, Nak, sudah makan? Tadi ibu
masak udang kesukaan kamu." Ibu mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Ma,
nanti Kiara makan, ada yang mau Kiara sampaikan ke Mama." Ia menghela
nafas, sejujurnya ia sangat tidak percaya diri untuk memberitahukan ini
mengingat penampilannya yang agak berantakan.
"Aku ditunjuk mewakili sekolah, lomba menyanyi
tingkat nasional." Jelasnya.
Ibunya kembali memperhatikan manik mata Kiara, di mana
letak kesenangannya? "Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Kia? Mama tau
kalau kamu suka sekali menyanyi dan kamu cukup mahir untuk melakukannya, tapi
kenapa? Mama ngga liat sorot senang di matamu."
Kiara menunduk, bagaimanapun ia harus menceritakannya,
setidaknya ia juga bisa lega karena mengeluarkan isi hatinya, "Aku dibully
ma, aku dikatain hitam sama mereka, aku minder untuk tampil, apalagi ini
tingkat nasional.
"Untuk apa malu, kamu cukup buktikan kalau si
hitam juga bisa, jangan cuma karena perkataan mereka bisa buat mimpi kamu jadi
terhambat Kiara. Jangan dengarkan mereka dan jadilah yang terbaik." Jelas
ibunya.
*****
"Serius? Masa yang jelek kayak gitu sih yang
dipilih," "Hah?! Yang
bener aja kalau dia" "Mending
kak Laura weeii yang diambil, daripada Kiara yang jelek banget itu. Ini kepala
sekolah ngga salah apa? Masa yang kaya gitu ngewakilin sekolah"
Seperti itulah yang didengar Kiara disepanjang koridor
sekolah, ia masuk ke dalam kelasnya dan langsung duduk.
"Ra, kamu ngewakilin sekolah ya? Selamat ya, aku
ikut senang" Aca menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Woi, cupu! Benaran ngewakilin sekolah
kita?!" Teriak Laura mengagetkan teman-temannya, termasuk Aca. Kiara dapat melihat wajah Aca yang kaget beberapa
saat.
"Masa iya? Ya kali orang jelek kayak gini disuruh
buat ngewakilin sekolah?" Sambar Mira lebih lebih kencang dari Laura.
"Namanya Kiara bukan cupu, lagian kenapa kalau
Kiara yang ngewakilin? Dia juga punya bakat di bidang itu kan? Lagian kenapa
sih itu-itu aja yang kalian bahas, jelek dari mananya? Kiara cantik gini
dibilang jelek, kalian harusnya sadar, Kiara yang paling unik di sini
cantiknya. Kalian sama Kiara tuh udah punya porsi masing-masing, lagian di
dunia ngga ada yang sempurna." Terang Aca di depan teman-teman Laura. Iya, dia tau
kalau selama ini Kiara dibully. Aca hanya berpura-pura tidak tau agar
Kiara tidak merasa malu terhadapnya.
Kiara berlari keluar kelas menuju WC sekolah, ia
menutup pintu dan tangisnya pecah, ia menatap pantulan dirinya di cermin,
"huh, ngga papa Kiara, kamu bisa!" Ucapnya kepada diri
sendiri.
Aca yang sedari tadi di luar mengetuk perlahan pintu
WC yang dituju Kiara, "Ra, keluar dulu yuk, ini aku ada list lagu
yang udah aku pilihin sesuai tema." Kiara yang mendengar itu sedikit lega,
setidaknya masih ada Aca yang peduli dan mau menjadi temannya.
Setelah beberapa minggu berlalu, hari ini adalah tepat
Kiara akan berlomba, sebelum berangkat ia dapat mendengar beberapa gosip dari
temannya.
"Ngga yakin sih bakal jadi juara, jadi jangan
terlalu berharap, hahaha."
Kiara menggelengkan kepalanya guna mengusir ucapan
temannya yang selalu terdengar, perlahan ia menaiki kendaraan yang akan
ditumpangi menuju lokasi lomba tersebut.
Aca tidak ikut, ia hanya menunggu di sekolah dengan
harapan sahabatnya datang dengan membawa kabar bahagia.
Kini, semua siswa siswi berkumpul di lapangan untuk
menonton Kiara secara daring karena tempatnya lumayan jauh. Waktunya
pengumuman lomba Aca sedikit bergetar.
"DAN YANG MENJADI JUARA PERTAMA ADALAH…." Aca
sangat menantikan kalimat berikutnya dari MC lomba tersebut "... KIARA
ARABELLA DARI SMA CAKRAWALA!" Aca membulatkan matanya, mulutnya
terbuka lebar. Ia dapat melihat Kiara di
layar sedang menyeka air matanya sambil memegang piala.
Waktu berlalu, sekarang Aca berada di depan sekolah
menunggu Kiara, ia tidak sabar. Aca memicingkan matanya memastikan bahwa
sahabatnya lah yang sedang berjalan sambil menggendong piala nya, "KIARA YOU
DESERVE IT!" Teriaknya, Kiara hanya terkekeh menanggapi sahabatnya
itu. Aca menggandeng Kiara menuju lapangan.
Dapat Kiara lihat siswa siswi bersorak untuknya,
setelah beberapa ucapan bangga dari para guru, Kiara dipersilahkan untuk
menyampaikan beberapa kata.
"Terimakasih untuk dukungannya teman-teman,
terutama untuk Aca yang selalu dukung dan bantu aku" Kiara tersenyum, ia
sedikit menghela nafas. "Untuk Laura, terimakasih banyak untuk
motivasinya, mulai sekarang aku bakal mencoba buat percaya diri." Kiara
sedikit menyeka air matanya yang perlahan jatuh, Laura yang melihat itu cukup
lama terdiam, ia tersadar akan perlakuannya selama ini.
""Ini aku, Kiara si hitam dan si jelek
berhasil dapat juara, tapi inilah aku dan aku bangga menjadi aku!" Siswa
siswi bertepuk tangan meriah, Kiara menghampiri Laura dan teman-temannya, ia
menjabat tangan Laura dan tersenyum, "terimakasih sekali lagi."
Laura menunduk malu, "Kiara aku minta maaf,
sekarang aku sadar kalau orang punya kelebihan masing-masing, maaf karena
menyakitimu selama ini." Teman-teman Laura pun ikut minta maaf dan mereka
berpelukan, Aca bernafas lega, akhirnya Kiara akan tenang dan aman di sekolah.
Perbedaan bukanlah penghalang untuk menjalin pertemanan, justru perbedaan lah yang akan membuat pertemanan itu unik. Marilah saling menghargai dan menghormati, junjung tinggi sikap toleransi.
Karya : Humaira
Kelas : XII 1
Sekolah: SMAN 1 Pamboang

